Berpikir Positif Kunci Linda Menang Lawan Kanker

Berfikir Positif

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar saat sesi wawancara bersama KOMPAS.com di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Apa yang terbersit dalam benak anda jika hasil diagnosa dokter menyatakan harapan hidup anda tinggal 40 persen karena kanker payudara ? Hal tersebut ternyata pernah dialami Linda Amalia Sari Gumelar, isteri Agum Gumelar, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Jangan pernah berpikir negatif. Positif sajalah, karena segalanya akan menyehatkan kita. Banyak hikmah yang saya dapat”

Meski merasa sangat terpukul dan tidak menerima atas kenyataan pahit yang didapatnya, tetapi Linda berhasil mengalahkan kanker payudara dengan bermodalkan keinginan kuat dan tetap berpikir positif.

Tahun 1996 adalah awal mimpi buruk itu datang. Bermula dari rencana pergi menunaikan ibadah haji bersama sang suami tercinta, akhirnya dengan sangat menyesal niat itu harus dibatalkan. Mendadak Linda merasakan ada sesuatu yang aneh pada payudaranya.

Seketika itu juga, dia memutuskan untuk pergi berobat ditemani oleh dokter keluarga, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Linda menjalani pemeriksaan USG, dan pihak dokter saat itu menemukan sesuatu yang tidak normal pada kedua payudaranya. Namun di situ Linda juga masih tidak berpikir ada suatu bahaya yang sedang mengancam dirinya. Keterangan tentang penyakit yang diidapnya akhirnya diketahui dari dokter keluarga yang saat itu turut mendampinginya.

“Pas tahu menderita kanker, barulah saya menangis. Saat itu saya hanya ingat anak. Saya enggak ingat diri saya kena kanker,” ujarnya kepada Kompas Health, Kamis (22/6/2011)

Untuk memastikan kebenaran penyakitnya, Linda pun menjalani pemeriksaan mamografi. Dan hasilnya memang positif kanker payudara. “Saat itu saya cuma ditemani dokter keluarga. Jadi suami belum tahu. Saya tidak mau kasih tahu lewat telepon karena nanti malah bikin suasana panik,” imbuhnya.

Tak terasa hampir seharian melakukan pemeriksaan, dan sore itu akhirnya Linda pulang ke rumah dengan beban yang cukup berat. Begitu sampai di rumah dan bertemu dengan Agum (suami), Linda menceritakan soal penyakit yang menimpanya. Dan seketika itu juga air matanya kembali tumpah.

“Pak Agum panik, terus telpon dokter keluarga. Dokter datang ke rumah dan ibu bapak saya juga. Di situ kami rapat, karena dokter minta hari Seninnya harus operasi. Saat itu dibilang untuk nyawa saya tinggal 40 persen dan penyakit 60 persen,” tuturnya.

Mendengar pernyataan dokter terkait peluang untuk bisa hidup yang tinggal 40 persen, keluarga besar akhirnya memutuskan untuk melakukan pengobatan ke luar negeri. Belanda saat itu menjadi tempat tujuan untuk menjalani pengobatan. Dipilihnya Belanda juga bukan tanpa alasan. Pasalnya, secara tidak sengaja, Linda teringat akan sahabatnya Rima Melati, yang dulu juga pernah mengalami hal serupa sebagaimana yang dia alami pada saat itu.

“Pada saat ke Belanda itu bulan April. Itu habis musim dingin. Ditambah lagi musim paskah. Jadi nggak ada orang. Semua pada acara paskah,” imbuhnya.

Walaupun beban yang ditanggungnya cukup berat, Linda tidak mau terlihat sedih di depan keluarganya. Ia berpikir, kesedihan tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Sehari sebelum tiba saatnya melakukan operasi, wanita yang juga aktif di organisasi keluarga TNI tersebut mengaku pasrah dan ikhlas.

Hanya satu permintaannya saat itu, yakni bisa melihat anak pertamanya lulus kuliah dan meraih gelar sarjana. Keikhlasan justru membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang dan rileks.

Saatnya pun tiba. Sebelum masuk ruang operasi, sang suami (Agum) memberikan kata-kata penyemangat untuk sang isteri. “Komando ma”, ucap Agum Gumelar seperti ditirukan Linda.

Operasi yang berjalan hampir 5 jam akhirnya selesai. Namun hasilnya belum dapat dipastikan saat itu juga. Pasalnya, harus menunggu putusan laboratorium sekitar seminggu lamanya.  Saat pengumuman hasil operasi dan pemeriksaan laboratorium tiba, ketegangan mulai terlihat. Linda mengaku saat itu adalah momen yang cukup menegangkan untuk dia dan keluarga.

“Pas sudah waktunya diumumkan, di mana ada pak Agum, adik ipar, dokter keluarga dan ibu, kita peganggan tangan sambil menunduk,” ungkapnya.

“Dan pas datang dokter dari belanda, dokter mengatakan bahwa hasilnya diketahui tidak ada penyebaran dan masih stadium awal. Kita sudah kaya orang dihukum mati tapi hidup lagi. Mendengar putusan dokter, kami menangis dan berpelukan,” lanjut Linda.

Pascaoperasi, secara bertahap Linda yang saat itu menjabat Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), terus melakukan kontrol terhadap penyakitnya. Mulai dari 3-6, bulan sekali dan setahun sekali. Hal tersebut dilakukannya selama 5 tahun.

“Itu pelajaran yang saya dapat dari perjalanan terkena kanker. Dan saya pikir apa yang mau Tuhan buat sangat mudah sebetulnya. Jangan pernah berpikir negatif. Positif sajalah, karena segalanya akan menyehatkan kita. Banyak hikmah yang saya dapat,” tegasnya.

Linda juga tidak lupa berpesan kepada penderita kanker, untuk tetap bersemangat dan tidak putus asa. Ditambahkannya pula bahwa, jangan pernah anggap kanker sebagai vonis mati. “Kanker hanyalah sebuah kata. Tidak ada bedanya dengan kata-kata lain. Sekarang tentu kembali pada diri kita untuk mau yakin dan semangat,” tandasnya.

 

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s